Showing posts with label Pecinta Alam. Show all posts
Showing posts with label Pecinta Alam. Show all posts

Friday, June 15, 2012

Kode Etik Pecinta Alam

 PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “
“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”
” PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.
3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.
7. Selesai.

Disyahkan bersama dalam
GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang

==>Read More

Wednesday, June 6, 2012

Parang-Ndok, Tebing Berjuta Kisah

6Halo Putra Ibu Bumi, apa kabar...??? Kali ini saya tidak bercerita kegiatan petualang mendaki gunung, panjat tebing, atau petualangan lainnya. Saya hanya akan sedikit bercerita tentang sebuah tebing karst yang ada di Yogyakarta dengan berjuta kisah yang ada (tapi saya cuma cerita beberapa aja yah, kalo berjuta-juta kebanyakan)...hehehehhehe....Ok tanpa perlu memperpanjang dan memperlebar basa-basi nya, langsung aja yah...

Setiap kali mendengar nama tempat Tebing Parang ndok, saya langsung teringat dengan kegiatan Diklatsar GAPADRI, Mapala STTNas Yogyakarta, yang pernah saya ikuti. Tebing ini terlalu menyeramkan waktu itu (karena saya baru pertama kali waktu itu). Rappeling dari ketinggian hampir 75 meter, dengan view pantai Parang Tritis, dan dalam kondisi dibawah tekanan (namanya juga masih peserta)....hehehehheee....tapi bukan ini inti ceritanya.

Namun, dibalik cerita diklatsar itu, ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh senior-senior saya yang benar-benar membuat saya kagum sama pencipta lagu itu. Konon kabarnya lagu itu diciptakan oleh seorang senior saya yang sedang putus cinta, dan terinspirasi tebing ini untuk melampiaskannya....lagu ini dibuat sekitar tahun 80-90an (katanya lho), karena gak ada manuscript yang jelas, dan hanya diperdengarkan dari mulut kemulut dan belum pernah di recording di studio rekaman.

Ok, karena belum ada rekamannya, saya menuliskan Liriknya saja ya....



Parang Ndok
Sunyi dihati, Sepi dijiwa
baik buruk awal dari sebuah kisah
tak perlu kau sesali
tak perlu kau tangisi
terhempas ku disebuah tebing Parang Ndok


Kucium, kupeluk,kuraba dan kupanjat
hancur hatiku hancurlah jariku
tak seputih magnesium
manisnya kemesraan
begitulah yang dijanjikannya


Reff :
Matahari kan bersinar lagi
Esok masih ada
walau tanpa kamu
hidup ini tetap indah
aku tetap aku


disaat gundah melanda
kusandang kembali ransel biruku
kulangkahkan kaki ini
susuri jalan setapak sunyi
menuju sebuah desa di kaki Merapi


Tetes embun pagi sejukkan hatiku
tetes embun pagi segarkan jiwaku
damai yang kudapati
tak jua engkau mengerti
cobalah mengerti arti hidup ini
(Back to Reff)


Yah, bagiku lirik lagunya mempunyai arti yang begitu dalam. Sebuah penghargaan terhadap hidup yang tidak di salurkan dalam hal-hal yang Negativ ketika sedang menghadapi masalah, namuin disalurkan dengan kegiatan positif (olahraga misalnya), jadi selain dapat melupakan masalah juga membuat tubuh menjadi sehat...Tul gak...????

Lagu ini sering dibawakan oleh Band Rendang Jengkol, band beraliran Reggae & Dangdut hasil kreativitas teman-teman GAPADRI, dan selalu mendapatkan sambutan antusias oleh para komunitas Pecinta Alam di Yogyakarta ketika memperdengarkan lagu ini dalam setiap event panggung musik ala Mapala.

Nah, sahabat petualang mohon maaf jika tulisan ini agak sedikit acak-acakan dan kurang berkesan. Untuk itulah saya minta saran dan dukungan dari Sahabat Petualang sekalian untuk dapat memberika komentarnya.....

Salam Lestari,
==>Read More

Tuesday, June 5, 2012

Kisah Pendakian Tanpa Persimpangan

Jalan itu sudah kutempuh sekian lama. naik turunnya lembah dan bukit bahkan terjalnya gunung sudah kulewati hingga puncaknya dan berada di balik sisi yang lain. 

lautan pun pernah kuselami
walaupun tak sampai dasarnya
karena sampai saat ini belum juga bisa kulawan
beratnya tekanan air di kedalaman.


sekarang
disini…
Pendakian tanpa persimpangan
ingin rasanya membelah jalan di hadapan

ketika di hadapan seperti tak ada lagi jalan
memang ku yakin ada jalan di hadapan
setidaknya dulu seingatku
longsor telah turun dari bukit di kanan jalan menutupi hampir seluruh jalan yang bisa ku tempuh
tidak ada kiri dan kanan
karena sudah kubilang ini bukanlah persimpangan

sekarang
disini…
Pendakian tanpa persimpangan
ingin rasanya membelah jalan di hadapan

tapi kulihat kembali setidaknya ada jurang di kiri jalan
dengan tumbuhan perdu di sisi lerengnya
telinga kanan berkata:
“apa kau yakin?”
“resikomu adalah hidupmu”
“dengan nafas terakhir adalah taruhannya”
“dan hilangnya semua kenangan tentang eksistensi dirimu”
“ya mungkin kau selamat”
“terjaga dengan kondisi lumpuh, tak dapat bangkit bahkan untuk menyentuh wajahmu sendiri”
“ya jika beruntung akan ada orang yang menolongmu dan mungkin mengobati”
dan begitu seterusnya
telinga kiri berkata:
“ambil saja resiko itu”
“panjat saja lerengnya dengan bergantung pada perdu”
“mungkin saja kuat toh perjalanan ini telah membuatmu kuat untuk bertahan”
“karena hidup adalah mencoba”
“karena hidup adalah belajar dari kegagalan”
“apa yang kau takutkan?”
“kematian??”
“mati itu seperti apa?”
“kehilangan nyawa?”
“sesungguhnya kau tak pernah memiliki”
“jadi apa yang kau rasa kehilangan?”
dan begitu seterusnya

sekarang
disini…
Pendakian tanpa persimpangan
ingin rasanya membelah jalan di hadapan

sebenarnya kadang ingin ku kembali saja kerumah
menyusuri kembali jalan yang pernah kutempuh
untuk kembali pulang

tapi.............................telinga kanan membisik untuk aku bertindak
hingga akhirnya aku mendapatkan petujuk yang sangat relegius
bahwa.....................................apa jawabku dengan ikhlas
Do'a dan ikhtiar telah membuka jalan yang terasa sulit menjadi indah ku nikmati
==>Read More